Total Quality
Management (TQM)
TQM merupakan sistem manajemen yang mengangkat
kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan
melibatkan seluruh anggota organisasi. TQM merupakan sistem manajemen yang
berfokus pada orang/karyawan dan bertujuan untuk terus-menerus meningkatkan
niai yang diberikan pada pelanggan dengan biaya penciptaan nilai yang lebih
rendah tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa TQM merupakan suatu
pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing
organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, tenaga kerja,
proses dan lingkungannya (Nasution, 2005).
a.
Konsep
TQM
TQM merupakan suatu manajemen yang
berfokus pada semua orang/tenaga kerja, bertujuan untuk terus menerus
meningkatkan nilai yang diberikan bagi pelanggan dengan biaya penciptaan nilai
yang lebih rendah daripada nilai suatu produk.
Pada dasarnya konsep TQM mengandung
tiga unsur:
1) Strategi
Nilai Pelanggan
Nilai pelanggan adalah
manfaat yang dapat diperoleh pelanggan atas penggunaan barang/jasa yang
dihasilkan perusahaan dan pengorbanan pelanggan untuk memperolehnya. Strategi
ini merupakan perencanaan bisnis untuk memberikan nilai bagi pelanggan termasuk
karakteristik produk, cara penyampaian, pelayanan dan sebagainya.
2) Sistem
Organisasional
Sistem organisasional
berfokus pada penyediaan nilai bagi pelanggan. Sistem ini mencakup tenaga
kerja, arus informasi, dan pembuatan keputusan.
3) Perbaikan
Kualitas Berkelanjutan.
Perbaikan kualitas
diperlukan untuk menghadapi lingkungan eksternal yang selalu berubah, terutama
perubahan selera pelanggan. Konsep ini menuntut adanya komitmen untuk melakukan
pengujian kualitas produk secara kontinu. Dengan perbaikan kualitas kontinu,
akan dapat memuaskan pelanggan.
Penerapan TQM dalam proses produksi
dilakukan pada setiap tahap dalam proses produksi. Proses produksi terdiri dari
tiga tahap, yaitu prepoduction,
production dan postproduction. Dalam
proses produksi TQM melalui tiga cara yaitu meniadakan atau mengurangi
penyimpangan proses produksi agar presentase kerusakan tidak ada atau kecildan
kualitas produk makin baik dengan menggunakan metode statistical quality control; menekankan pada preventive maintenance untuk mencegah kerusakan mesindan mencegah
kesalahan dalam proses produksi; melalui employee
self inspection sebagai salah satu unsur dalam ”manajamen proses’ yang akan
meningkatkan kesadaran karyawan untuk selalu menjaga kualitas produk.
Agar sukses dalam
menerapkan TQM, suatu organisasi harus berkonsentrasi pada 8 elemen kunci
berikut:
1) Etika
Etika adalah disiplin yang terkait dengan kebaikan dan
keburukan dalam berbagai situasi. Ia merupakan dua sisi mata uang yang
dilambangkan oleh etika organisasi dan etika individu. Etika organisasi
membentuk sebuah kode etik bisnis yang menguraikan petunjuk bagi semua
anggotanya dan harus melekat dalam pekerjaan sehari-hari mereka. Sedangkan
etika individu mencakup kebenaran dan kesalahan perseorangan.
2) Integritas (kejujuran)
integritas mencakup kejujuran, moral, nilai-nilai, keadilan,
dan kesetiaan terhadap kebenaran dan keikhlasan. Karakteristiknya adalah bahwa
apa yang diharapkan oleh pelanggan (internal/eksternal) dan apa yang memang
layak untuk mereka terima. Lawan dari integritas adalah sikap bermuka dua
(munafik), dan TQM tidak akan dapat bekerja dengan baik dalam suasana tersebut.
3) Kepercayaan
Kepercayaan adalah produk dari integritas dan prilaku yang
beretika. Tanpa kepercayaan, kerangka kerja dari TQM tidak dapat dibangun.
Kepercayaan membantu perkembangan partisipasi penuh dari semua anggota
organisasi. Ia memperkenankan aktifitas pemberian wewenang yang mendorong
kebanggaan turut memiliki perusahaan dan juga komitmen. Ia memberi peluang
dilakukannya pengambilan keputusan pada semua level dalam organisasi,
mengembangkan penanganan resiko oleh tiap-tiap individu untuk perbaikan
berkelanjutan dan membantu dalam menjamin bahwa ukuran-ukuran yang digunakan
terpusat pada perbaikan proses dan tidak digunakan untuk melawan pendapat orang
lain. Kepercayaan adalah sifat dasar untuk menjamin kepuasan pelanggan. Jadi,
kepercayaan membangun lingkungan yang kooperatif (saling bekerjasama) sebagai
dasar untuk TQM.
4) Pelatihan (training)
Training sangat penting artinya bagi karyawan organisasi
agar bisa menjadi lebih produktif. Disamping itu para Supervisor mesti
bertanggungjawab dalam menerapkan TQM di departemennya, termasuk mengajarkan
filsafat dasar dari TQM kepada semua bawahannya. Training yang biasanya
dibutuhkan oleh para karyawan dalam mendukung penerapan TQM antara lain;
kemampuan interpersonal, kecakapan bekerjasama dalam tim, penyelesaian masalah,
pengambilan keputusan, analisa dan perbaikan kinerja pengelolaan pekerjaan,
ekonomi bisnis, dan keterampilan teknis. Pada saat penciptaan dan pembentukan
TQM, para karyawan hendaknya segera dilatih agar mereka dapat menjadi karyawan
yang efektif bagi perusahaan.
5) Kerja tim (team work)
Kerjasama tim juga merupakan sebuah elemen kunci dari TQM,
yang menjadi alat bagi organisasi dalam mencapai kesuksesan. Dengan menggunakan
tim kerja, organisasi akan dapat memperoleh penyelesaian yang cepat dan tepat
terhadap semua masalah. Suatu tim biasanya juga memberikan perbaikan-perbaikan
permanen dalam proses dan operasi-operasi. Dalam sebuah tim, orang-orang merasa
lebih nyaman untuk mengajukan masalah-masalah yang terjadi dan dapat dengan
segera memperoleh bantuan dari pekerja-pekerja lainnya berupa solusi-solusi
yang akan digunakan untuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi. Secara
umum terdapat tiga jenis tim yang diadopsi oleh organisasi TQM:
6) Kepemimpinan (leadership)
Kepemimpinan mungkin merupakan hal yang paling penting
dalam TQM. Ia muncul pada semua tempat dalam organisasi. Kepemimpinan dalam TQM
membutuhkan manager-manager yang dapat memberikan pandangan atau visi yang
dapat memberikan ilham, membuat arahan strategis yang dapat dimengerti oleh
semua orang dan menanamkan nilai-nilai sebagai pedoman bagi bawahannya. Agar
TQM bisa berhasil diterapkan dalam organisasi, para supervisor juga harus
secara sungguh-sungguh memimpin bawahannya. Seorang supervisor harus mengerti
TQM, percaya akan kegunaannya dan kemudian menunjukkan kesungguhan dan
kepercayaannya itu dalam mempraktekkan TQM setiap hari. Para supervisor harus
memastikan bahwa strategi, filsafat dasar, nilai-nilai dan sasaran-sasaran mutu
telah disampaikan kepada bawahannya disepanjang organisasi untuk menghasilkan
fokus, kejelasan dan arah dari TQM. Kunci terpenting adalah bahwa TQM harus
diperkenalkan dan dipimpin oleh manajemen puncak. Komitmen dan keterlibatan
personal dari manajemen puncak dibutuhkan dalam rangka penciptaan dan
penyebaran nilai-nilai dan sasaran-sasaran mutu yang jelas dan bersesuaian
dengan sasaran-sasaran dari perusahaan, serta penciptaan dan penyebaran sistem
yang terdefinisi dengan baik, metoda-metoda dan pengukur kinerja untuk mengukur
pencapaian sasaran-sasaran tersebut.
7) Penghargaan (recognition)
Komunikasi akan mengikat segala sesuatu secara
bersama-sama. Dimulai dari pondasi sampai ke atap dari suatu bangunan TQM,
semua elemen diikat oleh campuran semen pengikat berupa komunikasi. Ia
bertindak sebagai sebuah mata rantai penghubung antara semua elemen TQM.
Komunikasi berarti sebuah pemahaman bersama terhadap satu atau sekelompok
ide-ide antara pengirim dan penerima informasi. TQM yang sukses menuntut
komunikasi dengan, dan/atau diantara, semua anggota organisasi, pemasok dan
juga pelanggan. Para Supervisor harus memelihara keterbukaan dari arus
komunikasi dimana seluruh karyawannya dapat mengirim dan menerima semua
informasi tentang proses-proses TQM. Adalah suatu hal yang vital bahwa
komunikasi harus dirangkai dengan penyampaian informasi yang benar bukan dengan
informasi yang keliru. Supaya komunikasi bisa menjadi sesuatu yang dapat
dipercaya maka pesan yang disampaikan harus jelas dan penerima informasi harus
memiliki penafsiran yang sama dengan apa yang dimaksud pengirimnya. Berdasarkan
arahnya, komunikasi dapat dibedakan atas:
8) Komunikasi
Komunikasi jenis ini merupakan bentuk dominan dari
komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi. Metoda presentasi dan diskusi biasanya
didasarkan pada jenis komunikasi ini. Dengan cara ini pula para supervisor
dapat memberikan penjelasan yang baik tentang TQM kepada semua karyawannya.
b.
Metode
dan Tehnik TQM
1) Metode
TQM
Pembahasan
mengenai metode TQM, M.N Nasution dalam bukunya yang berjudul Manajemen Mutu
Terpadu (Total Quality Management)
(2002:27) menjabarkan metode TQM yang difokuskan pada tiga pakar yang merupakan
pionir dalam pengembangan TQM, yaitu :
1. Metode
Deming
Metode yang terkenal
dari Deming adalah siklus Deming (Deming Cycle),
yang dikembangkan untuk menghubungkan antara operasi dengan kebutuhan pelanggan
dan memfokuskan sumber daya semua bagian dalam perusahaan (riset, desain,
operasi, dan pemasaran) secara terpadu dan sinergi untuk memenuhi kebutuhan
pelanggan.
Siklus Deming adalah
model perbaikan berkesinambungan yang dikembangkan oleh W. Edward Deming yang
terdiri atas empat komponen utama secara berurutan, seperti pada gambar berikut
ini :
![]() |
Siklus
PDCA
Penjelasan
dari setiap siklus PDCA adalah sebagai berikut :
a. Mengembangkan
rencana perbaikan (plan)
Merupakan langkah
setelah dilakukan pengujian ide perbaikan masalah. Rencana perbaikan disusun
berdasarkan prinsip 5W (what, why, who,
when, where) dan 1 H (how), yang
dibuat secara jelas dan terinci serta menetapkan sasaran dan target yang harus
dicapai. Dalam menetapkan sasaran dan target harus diperhatikan prinsip SMART (specific, measurable, attainable,
reasonable, dan time).
b. Melaksanakan
rencana (do)
Rencana yang telah
disusun diimplementasikan secara bertahap, mulai dari skala kecil dan pembagian
tugas secara merata sesuai dengan kapasitas dan kemampuan dari setiap personil.
Selama dalam melaksanakan rencana harus dilakukan pengendalian, yaitu
mengupayakan agar seluruh rencana dilaksanakan dengan sebaik mungkin agar
sasaran dapat dicapai.
c. Memeriksa
atau meneliti hasil yang dicapai (check
atau study)
Memeriksa atau meneliti
merujuk pada penetapan apakah pelaksanaannya berada dalam jalur, sesuai dengan
rencana dan memantau kemajuan perbaikan yang direncanakan. Alat yang dapat
digunakan dalam memeriksa adalah pareto diagram, histogram, dan diagram
control.
d. Melakukan
tindakan penyesuaian (action)
Penyesuaian dilakukan
bisa dianggap perlu, yang didasarkan hasil analisis di atas. Penyesuaian
berkaitan dengan standardisasi prosedur baru, guna menghindari timbulnya
kembali masalah yang sama atau menetapkan sasaran baru bagi perbaikan
berikutnya.
Siklus
PDCA tersebut berputar secara berkesinambungan, segera setelah suatu perbaikan
dicapai, keadaan perbaikan tersebut dapat memberikan inspirasi untuk perbaikan
selanjutnya. Oleh karenanya, manajemen harus secara terus-menerus merumuskan
sasaran dan target-target perbaikan baru
2. Metode
Juran
Juran mendefinisikan
kualitas sebagai cocok/sesuai untuk digunakan (fitness for use), yang mengandung pengertian bahwa suatu barang
atau jasa harus dapat memenuhi apa yang diharapakan oleh para pemakainya.
Pengertian cocok untuk digunakan ini mengandung 5 dimensi utama, yaitu kualitas
desain, kualitas kesesuaian, ketersediaan, keamanan, dan field use.
Juran mencetuskan The Juran Trilogy yaitu :
1. Perencanaan
kualitas
Perencanaan kualitas
meliputi pengembangan produk, sistem, dan proses yang dibutuhkan untuk memenuhi
atau melampaui harapan pelanggan. Langkah-langkah yang dibutuhkan untuk itu
adalah sebagai berikut :
a. Menentukan
siapa yang menjadi pelanggan
b. Mengidentifikasi
kebutuhan para pelanggan
c. Mengembangkan
produk dengan keistimewaan yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan
d. Mengembangkan
sistem dan proses yang memungkinkan organisasi untuk menghasilkan keistimewaan
tersebut
e. Menyebarkan
rencana kepada level operasional
2. Pengendalian
kualitas
Pengendalian kualitas
meliputi langkah-lagkah berikut :
a.
Menilai kinerja
kualitas aktual
b.
Membandingkan kinerja
dengan tujuan
c.
Bertindak berdasarkan
perbedaan antara kinerja dengan tujuan
3. Perbaikan
kualitas
Perbaikan kualitas
harus dilakukan secara terus-menerus. Langkah-langkah yang dapat dilakukan
adalah sebagai berikut :
a. Mengembangkan
infrastruktur yang diperlukan untuk melakukan perbaikan kualitas setiap tahun
b. Mengidentifikasi
bagian-bagian yang membutuhkan perbaikan dan melakukan proyek perbaikan
c. Membentuk
suatu tim proyek yang bertanggung jawab dalam menyelesaikan proyek
d. Memberikan
tim-tim tersebut apa yang mereka butuhkan agar dapat mendiagnosis masalah guna
menentukan sumber penyebab utama, memberikan solusi, dan melakukan pengendalian
yang akan mempertahankan keuntungan yang diperoleh
3. Metode
Crosby
a.
Dalil pertama :
Definisi kualitas adalah sama dengan persyaratan
Pada awalnya kualitas
diterjemahkan sebagai tingkat kebaikan (goodness).
Definisi ini memiliki kelemahan, yaitu tidak menerangkan secara spesifik
bagaimana yang disebut baik itu. Definisi kualitas menurut Crosby adalah
memenuhi atau sama saja dengan persyaratan (conformance
to requirements). Kurang sedikit saja dari persyaratannya, maka suatu
barang atau jasa dikatakan tidak berkualitas. Persyaratan itu sendiri dapat
berubah sesuai dengan keinginan pelanggan, kebutuhan organisasi, pemasok dan
sumber, pemerintah, teknologi serta pasar atau persaingan.
b.
Dalil kedua : Sistem
kualitas adalah pencegahan
Untuk menghindari
pemborosan biaya pada akhir proses, maka sebaiknya dilakukan pencegahan sejak
awal sehingga output-nya dijamin
bagus serta hemat biaya dan waktu. Atas dasar itulah system kualitas menurut
Crosby merupakan pencegahan.
c.
Dalil ketiga :
Kerusakan nol (zero defect) merupakan
standar kinerja yang harus digunakan.
Konsep yang berlaku di
masa lalu, yaitu konsep mendekati (close
enough consept), misalnya efisiensi mesin mendekati 95%. Tetapi, bila
dihitung besarnya inefisiensi 5% dikalikan dengan penjualan maka akan didapat
nilai yang cukup besar. Crosby mengajukan konsep kerusakan nol, yang menurutnya
dapat tercapai bila perusahaan melakukan sesuatu dengan benar sejak awal proses
dan setiap kali proses.
d.
Dalil keempat : Ukuran
kualitas adalah price of nonconformance
Kualitas harus
merupakan sesuatu yang dapat diukur. Biaya untuk menghasilkan kualitas juga
harus terukur. Menurut Crosby, biaya mutu merupakan penjumlahan antara price of nonconformance dan price of conformance.
Price of nonconformance (PONC)
adalah biaya yang harus dikeluarkan karena melakukan kesalahan. Dengan konsep zero defect, diharapakan PONC ini tidak
ada sehingga dapat menurunkan biaya kualitas. Sedangkan price of conformance (POC) adalah biaya yang dikeluarkan bila tugas
dilakukan secara benar sejak awal. Untuk keperluan ini dibutuhkan konfirmasi
persyaratan dari pelanggan.
2) Teknik TQM
Dalam proses peningkatan mutu, tentu saja
kita akan selalu bertemu dengan berbagai masalah. Untuk mengidentifikasi dan
memecahkan masalah kita harus mempunyai taktik. Taktik dan pendekatan untuk itu
di antaranya adalah:
(a) Gugah Pikir
(brainstorming)
Gugah pikir adalah suatu alat yang digunakan untuk memancing sejumlah
gagasan teritang isu dan masalah tertentu. Alat ini dapat digunakan untuk
memperjelas atau mengidentifikasi, dan menganalisis masalah. Namun alat ini
tidak dapat digunakan untuk mengevaluasi situasi, oleh karena itu alat ini
dapat dipakai bersama-sama dengan alat atau teknik lainnya.
(b) Jaringan
Kerja Kemiripan (affinity network)
Jaringan kerja kemiripan ini sebetulnya dapat merupakan kelanjutan dari
gugah pikir, dimana gagasan yang sudah dikumpulkan melalui gugah pikir kemudian
dikelompokkan. Setelah dikelompokkan, kemudian diberi judul untuk setiap
kelompok, dan selanjutnya ditentukan hubungan antar kelompok yang ada dengan
menggunakan garis-garis penghubung
(c)
Diagram Tulang Ikan (fishbone diagram)
Diagram ini disebut juga dengan diagram sebab akibat, gunanya untuk melihat
keterkaitan antar faktor-faktor yang diperkirakan berpengaruh terhadap masalah
atau hasil yang diinginkan.
(d) Analisis
Keadaan Lapangan (force-field analysis)
Alat ini digunakan untuk mengidentifikasi dan mempelajari terwujudnya
suatu perubahan dari sebuah kondisi. Ringkasnya, dengan analisis keadaan
lapangan ini, kita harus menentukan situasi perubahan yang diinginkan, dan
mengidentifikasi faktor-faktor yang merupakan pendorong dan penghambat. Dan
selanjutnya kita harus berupaya memperbesar kekuatan pendorong tadi, dan pada
saat yang sama kita berusaha menetralisir kekuatan penghambat.
(e) Pendiagraman
(process charting)
Pendiagraman merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mengetahui
siapa pelanggan, suatu lembaga, sehingga lembaga tersebut dapat
mengidentifikasi sumber daya yang dibutuhkan untuk memuaskan pelanggan
tersebut.
(f) Diagram Arus
(flowcharts)
Teknik ini adalah suatu pendekatan sistematis untuk memahami dan
memperbaiki suatu proses kerja ataupun untuk menyeragamkan pemahaman tentang
bagaimana suatu pekerjaan harus dilaksanakan.
(g) Analisis
Pareto (Pareto analysis)
Sebagai aiat untuk perbaikan mutu, analisis pareto digunakan untuk
mengidentifikasi kategori-kategori yang dianggap paling mungkin menjadi
penyebab suatu masalah atau mengidentifikasi kategori-kategori yang dianggap
paling mungkin sebagai solusi dari suatu masalah yang dihadapi.
(h) Pengukuran
Kinerja (benchmarking)
Pengukuran kinerja maksudnya adalah membuat suatu standar mutu tertentu
dan membandingkannya dengan kinerja yang diperoleh sekarang. Biasanya yang
dijadikan sebagai standar mutu adalah kinerja dari pesaing kita yang dianggap
terbaik.
(i) Pemetaan
Arah Karir (career path-mapping)
Pemetaan arah karir adalah alat sederhana yang digunakan untuk
mengidentifikasi tahapan-tahapan penting ataupun, kendala-kendala yang cukup
potensial dalam perjalanan karir seseorang.
Pengunaan alat-alat atau teknik-teknik
yang disebutkan di atas harus disesuaian dengan masalah yang akan dipecahkan,
karena tidak semua alat atau teknik ini sesuai untuk setiap permasalahan.
Selain itu, keberhasilan penggunaannya ditentukan oleh keterampilan dan
pemahaman penggunanya, baik pemahaman tentang alat atau teknik yang digunakan
maupun mengenai masalah itu sendiri (Siregar,Ridwan, 2004)
c.
Pelaksanaan
TQM
Jika
perusahaan telah memutuskan untuk mengimplementasikan program TQM, maka
perencanaanya harus dilakukan oleh manajemen puncak dan diinformasikan kepada
seluruh karyawan. Pimpinan puncak harus menetapkan tujuan (goal). Yang harus
dicapai dan implementasi program TQM, seperti apa yang harus diubah? Apakah
tujuannya ingin memberdayakan karyawan? Apakah ingin meningkatkan loyalitas
pelanggan? Tujuan yang diterapkan secara jelas menunjukkan bahwa pimpinan
mengetahui apa yana dicari dan ini menjadi dasar untuk dapat mengorganisasikan
program TQM mencapai tujuannya.
Agar implementasi program TQM
berjalan sesuai dengan yang diharapkan, diperlukan persyaratan sebagai berikut
:
1) Komitmen
yang tinggi (dukungan penuh) dari manajemen puncak
2) Mengalokasikan
waktu secara penuh untuk program TQM
3) Menyiapkan
dana dan mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas
4) Memilih
koordinator (fasilitator) program TQM
5) Melakukan
bechmarking pada perusahaan lain yang
menerapkan TQM
6) Merumuskan
nilai (value), visi (vision), dan misi (mision)
7) Mempersiapkan
mental untuk menghadapi berbagai bentuk hambatan
8) Merencanakan
investasi program TQM
9) Mengambil
pelajaran dari kegagalan program TQM
Beberapa
pakar kualitas telah mengemukakan cara mengimplementasikan TQM berdasarkan pendekatan
yang berbeda. Menurut Bhat dan Cozzalino (1993: 119), secara mendasar ada dua
pendekatan yang berbeda. Pertama adalah pendekatan secara radikal yang dilakukan untuk
memperbaiki metode bisnis dan kebiasaan yang tidak perlu dan menjadikan
perusahaan berubah drastis. Hasil penelitian terakhir mengindikasikan bahwa
pendekatan tersebut memboroskan waktu dan biaya untuk hal yang tidak perlu.
Pendekatan lainnya adalah secara inkremental dilakukan oleh perusahaan yang
membangun kualitas secara gradual dan bertahap. Sebagian besar implementasi TQM
dewasa ini dilakukan secara inkremental karena pada hakekatnya merupakan
pendekatan proses menuju perubahan budaya kualitas (Syarhan, 2009).
Secara
garis besar proses implementasi TQM mencakup:
1) Manajemen
puncak harus menjadikan TQM sebagai prioritas utama organisasi, visi yang jelas
dan dapat dicapai, menyusun tujuan yang agresif bagi organisasi dan setiap
unit, dan terpenting menunjukkan komitmen terhadap TQM melalui aktivitas
mereka.
2) Budaya
organisasi harus diubah sehingga setiap orang dan setiap proses menyertakan
konsep TQM. Organisasi harus diubah paradigmanya, focus pada konsumen, segala
sesuatu yang dikerjakan diselaraskan untuk memenuhi harapan konsumen.
3) Kelompok
kecil dikembangkan pada keseluruhan organisasi untuk memahami kualitas,
identifikasi keinginan konsumen, dan mengukur kemajuan dan kualitas.
Masing-masing kelompok bertanggung jawab untuk mencapai tujuan mereka sebagai
bagian dari tujuan organisasi keseluruhan.
4) Perubahan
dan perbaikan berkelanjutan harus diimplementasikan, dipantau, dan disesuaikan
atas dasar hasil analisis pengukuran. Sedangkan Goetsch dan Davis (dalam
Tjiptono dan Diana, 2001: 350) menjelaskan implementasi TQM yang lebih rinci
dan sistematis ke dalam tiga fase: fase persiapan, fase perencanaan, dan fase
pelaksanaan. Setiap fase terdiri atas beberapa langkah dengan waktu sesuai
kebutuhan organisasi.
(Syarhan, 2009).
d.
Kegagalan
TQM
Keberhasilan
TQM dalam berbagai bentuk implementasinya telah diakui oleh pelaku bisnis di
dunia maupun oleh para akademisi terkemuka, menunjukkan suatu bukti bahwa TQM
merupakan salah satu sistem manajemen kualitas yang dapat diandalkan untuk
meningkatkan daya saing sampai saat ini. Jepang sebagai contoh negara yang
berhasil memanfaatkan TQM walaupun Jepang bukan yang menemukan gaya TQM.
Keberhasilan Jepang tersebut tentu saja dilandasi oleh komitmen dan
keterlibatan secara penuh dari seluruh karyawan dalam penerapannya, tidak
setengah-setengah dan bersifat kemanusiaan, yaitu mengikutsertakan memberi
inspirasi dan memberlakukan karyawan secara manusiawi dalam mencapi kualitas. Memang
diakui bahwa tidak semua perusahaan maupun organisasi yang menerapkan TQM
sekarang ini dapat bekerja dengan baik dan bahkan beberapa perusahaan sama
sekali tidak dapat menghasilkan perbaikan kinerja yang memadai, dengan kata
lain telah gagal dalam penerapannya. Kegagalan penerapan TQM ini telah
membuat banyak kritik yang dilontarkan
orang terhadap TQM.
Kegagalan
TQM dalam penerapannya tidaklah berarti TQM salah dalam konsep dan telah
kehilangan kegunaannya. Penerapan TQM yang menyimpang dari prinsip-prinsipnya
dan tidak lengkap, mengakibatkan perbaikan kualitas dan produktivitas lebih
kecil jika dibandingkan dengan keberhasilan perusahaan yang menerapkannya
secara menyeluruh dan sesuai dengan prinsip TQM. Untuk menghindari kegagalan
dalam penerapan TQM, perusahaan harus mendalami dan memahami bagaimana struktur
program TQM harus dibuat (Novania, Tanpa tahun).
DAFTAR
PUSTAKA
Hanum, Fitria.
2005. Evaluasi Penerapan Total Quality
Management Pada Bagian Produksi PT
Mustika Ratu. [serial online] http://dspace.widyatama.ac.id/bitstream/handle/10364/625/content.pdf?sequence=1
(12 Oktober 2010)
Nasution. 2005. Manajemen Mutu Terpadu. Jakarta:Galia
Indonesia
Novania, Nurul Diena.Tanpa tahun.Total Quality Management.[serial online]
pksm.mercubuana.ac.id/new/.../92038-9-152986532990.doc [12 Oktober 2010]
Siregar,Ridwan.
2004. Manajemen Mutu. Program Studi Perpustakaan dan Informasi
Universitas Sumatera Utara
Syarhan, 2009. Aplikasi TQM pada Pelayanan Kesehatan CHJ Kab. Tasikmalaya. [serial Online] http://inseparfoundation.wordpress.com/aplikasi-tqm-pada-pelayanan-kesehatan-cjh-kab-tasikmalaya/ (12 Oktober 2010)
Zulfadlhli. 2005. Pengelolaan Mutu Terpadu [serial online]
http://jonizulkarnain.jurnal.com/total-quality-manajemen/
(13 Oktober 2010)

